Pelacuran Idealisme

Jenuh juga liat berita belakangan ini, isinya cuma sekitar “seniman politik” yang ngebut ngejar lakon lima tahunan. Sama-sama mengusung agenda wakil rakyat, pejuang kesejahteraan rakyat keberhasilan A…B…C…, pioneer kedamaian pada X…Y…Z…, saling berlomba-lomba mempatenkan prestasi. Seharusnya, jika memang “pejabat-pejabat terhormat” yang merasa memegang amanah, menyadari bahwa membela kesejahteraan dan memperjuangkan kemakmuran rakyat adalah kewajiban utama mereka, bukan sebuah agenda sampingan yang selalu didengung-dengungkan, tetapi dikerjakan!!!

Teringat salah satu mata kuliah yang semester ini saya ikuti, niatnya cuma buat “merevisi” nilai… tapi sejak pertama kali saya masuk, banyak “nilai lebih” yang saya dapat disana. Beliau termasuk salah satu dosen yang humoris namun kritis, itu pendapat saya. Kebetulan minggu ini bercerita tentang akhlak, dikaitin sana-sini sampai pada sebuah satu statement yang intinya, “Mahasiswa merupakan sosok yang strategis dan sempurna dalam memperjuangkan hak-hak dan membela rakyat, sosok mahasiswa jauh dari kepentingan-kepentingan pribadi, dan ketika bertindak masih berlandaskan semangat juang dan rela berkorban, untuk itu jangan sampai seorang mahasiswa melacurkan idealisme yang telah terbentuk!!!”

Berbicara tentang mahasiswa, sedikit banyak saya pasti merasa tersindir karena setidaknya sudah tiga tahun lamanya saya mengantongi “Kartu Tanda Mahasiswa”. Terlepas bagaimana citra mahasiswa seharusnya, haruskah seorang mahasiswa sibuk dalam peneltian-penelitian guna menemukan teori-teori baru kemudian bertanding dalam ajang science bergengsi ataukah seorang mahasiswa “idealis” yang sibuk berdialektika guna memperjuangkan hak-hak rakyat… ataukah menjadi pilihan mahasiswa kebanyakan… banyak nganggur, banyak nge-game, banyak nge-net, banyak nge-mall, banyak tidur, dll. Kalau ditanya saya masuk ke bagian mana, maka saya lebih senang masuk ke bagian mahasiswa kebanyakan, banyak senang-senang (yang kemudian menggerogoti kewajiban saya belakangan ini… hiks…).

Masih teringat ketika menjadi bagian dari salah satu “kacung” idealisme, dimana diantara kelelahan terselip semangat terselip amanah terselip kebimbangan dan selipan-selipan lainnya. Semua karena satu alasan, ingin mengabdi. Hal ini yang menjadi landasan, buruk bagus sedih senang dihina dipuji menjadi tak peduli, yang penting bisa mengabdi… itu saja. Tidak mudah ketika seorang mahasiswa memutuskan menjadi seorang “kacung”. Karena seorang “kacung” memiliki banyak godaan dan hambatan. Komitmen harus dipegang teguh dan amanah seorang yang “idealis” harus ditanamkan pada hati, jiwa, dan fikiran. Jangan sampai hanya karena unjuk gigi mengejar prestige sebuah agenda kegiatan, melacurkan idealisme yang telah tertanam, yang kemudian menjadi ajang promosi A…B…C… demi kepentingan segelintir orang. Kalau sudah begini, masihkan pantas Anda menyandang kata “MAHASISWA” ?!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: