Ketika Amanah Tak Lagi Terbendung

Keberanian bukan berarti tidak adanya rasa takut, tapi lebih dari itu semua adalah tanggung jawab yang harus dijalani.

Itulah sepenggal kalimat yang selalu mengganggu fikiranku belakangan ini. 3 tahun yang lalu aku bergabung dalam sebuah organisasi, satu periode itu kujalani bukan tanpa masalah, setiap tugas yang menghadang bisa dipastikan juga disertai dengan masalah yang bertubi-tubi. Merasa tertekan, bersalah, dikejar-kejar, kebingungan hampir jadi santapan setiap kali berkegiatan. Bukannya aku menikmati masalah-masalah itu, tapi setiap aku bisa menyelesaikan tugas yang diberikan apapun hasilnya, tugas-tugas itu bisa membuatku menjadi memiliki “nilai” lebih. Pengalaman mengajariku banyak hal, lama-kelamaan aku malah menjadi terbiasa dan terlatih. Dalam proses pendewasaan hidup, organisasi itu banyak membantuku. Jiwa dan emosiku yang masih labil perlahan mulai tertata, wawasanku mulai terbuka, aku belajar mengambil dan memanage tanggung jawab sebagai orang dewasa, aku lebih dapat menggunakan nalar dan logikaku dalam membuat keputusan, aku mulai bisa memecahkan permasalahan menjadi bagian-bagian kecil hingga dapat kuselesaikan. Aku telah belajar untuk tidak lagi cengeng, lari, dan menyerah pada keadaan, aku terus mencoba menghadapi setiap permasalahan yang ada. Aku juga belajar memilah-milah dan bisa melihat bagian baik dan buruk. Singkatnya, aku tak lagi mengharapkan bantuan dan mengantung pada orang lain seperti sebelumnya, aku belajar untuk mengandalkan diriku sendiri dan lebih menghargai hidup, aku telah berhasil mengubah diriku sendiri dari seorang gadis manja menjadi lebih taft dan mandiri. Pelajaran sosialisasi dengan berbagai watak manusia juga kudapatkan. Dan akhirnya semua itu malah membuatku merasa nyaman. Tapi jujur saja, apapun hal yang paling nyaman di dunia ini, bahkan kalaupun hal tersebut adalah impianmu, lama-kelamaan pasti akan membuatmu jenuh. Hal ini juga ternyata menimpaku, hanya saja aku terlambat menyadarinya.

Dua tahun setelahnya, periode itu berakhir. Sudah menjadi kebiasaan dalam sebuah organisasi pasti terjadi regenerasi. Aku tak tau apa yang akan kuhadapi esok hari apakah kondisinya akan sama seperti kemarin ataukah aku akan siap menjalaninya lagi. Kebimbangan pasti menyelimutiku, periode baru berarti suasana baru, yang juga berarti rekan-rekan kerja yang baru. Butuh waktu lama bagi orang sepertiku untuk beradaptasi, mengingat aku bukanlah orang yang mudah bergaul. Juga penting bagiku untuk merasa nyaman dalam suatu pekerjaan baik dalam kondisi yang paling buruk sekali pun, aku harus tau dan meyakinkan diri sendiri bahwa aku tidak sendiri, bahwa aku juga punya partner yang bisa diandalkan, bahwa partnerku juga berusaha keras untuk menyelesaikan permasalahan, dan tidak hanya berpangku tangan pada pihak lain atau menunggu waktu, faktanya aku butuh partner bukan bawahan, aku ingin bekerja sama, aku haus akan berbagi ilmu. Sayangnya apa yang kurasakan pada sebelumnya tidak kutemui lagi, aku merasa aneh dan terasing. Aku hanya bisa berfikir positif, ini suasana baru, aku hanya perlu lebih mengkeraskan diri untuk beradaptasi dan memahami. Kemudian aku pun memberi waktu dan kesempatan pada diriku sendiri, dan hasilnya… aku malah semakin hilang. Aku tak lagi merasa nyaman dalam pekerjaanku, dan puncaknya aku merasa jenuh. Tak lagi merasa mendapatkan “nilai-nilai” seperti sebelumnya. Andaikata banyak pengorbanan fisik, mental, dan materi, tak apalah… asal aku bisa menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Karena menurutku, selagi aku masih menjadi mahasiswa, maka inilah kesempatanku untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Tak dibayar tak mengapa, asal aku bisa bermanfaat untuk orang lain sudah cukup buatku. Karena hal ini penting bagi pencarian dan pengembangan jati diriku, dan hal tersebut menurutku lebih tak ternilai harganya. Aku ingin membantu, aku ingin sekali membantu… aku ingin juga mengabdi… hanya saja beri aku pilihan lain. Dan sekarang… loss of control… akhirnya aku mencari wadah lain, mengabdi dengan caraku sendiri.

Seharusnya aku menyadarinya sejak awal, hingga tak perlu ada yang kukecewakan. Seharusnya aku tak melanjutkan ini semua, seharusnya dulu aku membiarkan diriku beristirahat, mulai menata dan memprioritaskan studyku kembali, seharusnya dulu aku mempunyai sikap dan berfikir panjang. Tak perlu aku ceritakan bagaimana bersalahnya aku, atau bagaimana beban ini menjadi lebih berat untukku. Yang jelas, aku sudah tak dapat menjalaninya lagi. Telah banyak hal yang kutunda, dan aku tak dapat menundanya lebih lama. Harus ada yang kukorbankan salah satunya. Faktanya kemampuanku sangat terbatas untuk menjalani 2 hal sekaligus. Seandainya permintaan maaf bisa menebusnya, maka sudah kusampaikan sejak dulu. Namun telah lama kupelajari bahwa “maaf” bukanlah sebuah penebusan.

Benar kata orang, sebaiknya apapun usaha yang sedang dilakukan, dihentikan ketika telah mencapai puncaknya, karena itulah batas kemampuanmu. Jangan memaksakan diri atau berangan akan lebih baik dari sebelumnya, karena bisa saja hal tersebut hanya akan membuatmu jatuh terjerembab lebih jauh dan menyakitkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: